Mengapa banyak orang yang memiliki website tapi bisnis onlinenya tidak berkembang bahkan cenderung merugi?

Pertanyaan ini mungkin yang anda alami juga setelah memiliki website tapi mengapa bisnis yang kita sedang kembangkan tidak berkunjung memperlihatkan hasil yang signifikan walaupun sudah menggunakan website.

Pada kesempatak kali ini tim penulis dari JasaWebsite.Biz akan coba menjawab mengapa banyak orang yang sudah memiliki website tapi bisnis onlinenya tidak berkembang bahkan malah cenderung merugi.

1. Minim ilmu dalam komunikasi

Banyak orang yang ingin sukses tapi malas. Ya, malas mempelajari sesuatu yang sebenarnya mendasar dan menjadi pondasi utama sebuah bisnis. Sebagai contoh ada sebuah website yang ramai pengunjungnya bahkan banyak yang bertanya mengenai harga produk/ jasa yang ditawarkan pada website tersebut namun karena malasnya pemilik website menjawab ala kadarnya saja.. padahal jika calon pelanggan bertanya melalui media chat , mereka sebenarnya ingin dilayani lebih baik dengan balasan yang nyaman dan menyenangkan. Kenyataannya banyak yang melupakan dan menyepelekan hal ini. Ada yang langsung jawab harganya seperti digambarkan pada ilustrasi chat dibawah ini :

Pembeli : mas kalau jasa perbaikan cctv berapa ya?
Penjual : 500 rb. 

Coba kita bandingkan dengan chat berikut ini :

Pembeli : mas kalau jasa perbaikan cctv berapa ya?
Penjual : oh iya, bapak perkenalkan nama saya andi dari pakarcctv.me. boleh tau nama bapak siapa? Biar kami catat di kontak whatsapp kami..

Jika anda jadi calon pelanggan penjual yang mana yang anda pilih? 

Hampir semua sepakat memilih penjual ke 2, minimal dengan membalas chatnya yang begitu manusiawi. 

Alasan utama seorang calon pelanggan melakukan chat adalah ingin berinteraksi dengan manusia dan mendapatkan pelayanan dengan baik dan tentunya bukan dengan balasan yang ketus atau terlalu slow respon.

Harga bisa jadi lebih mahal ataupun sama, namun penjual yang memberikan layanan dengan hati pasti akan disambut degan baik oleh calon pelanggannya.. kalau tidak closing minimal mereka tidak kapok bertanya dengan kita dan kemungkinan bisa closing di lain waktu.

2. Salah paham punya website pasti banyak pembeli

Nah, ini kesalahan kebanyakan newbie atau pemula. Kebanyakan pengusaha konvensional mengira dengan hanya memiliki website pasti usahanya laku keras. Padahal ini keyakinan yang teramat menyimpang hehe.. 

Sebuah website itu ibarat sebuah toko yang perlu didatangi calon pelanggan dalam hal ini pengunjung. Dalam dunia digital pengunjung ini biasa disebut dengan pengunjung website atau dalam bahasa inggrisnya website visitor. Tanpa ada pengunjung maka pasti tidak ada yang melihat toko digital kita. Tanpa ada yang melihat berarti peluang terjualnya produk dan jasa sama dengan nol persen. 

Intinya website butuh visitor agar ada peluang penjualan. Cara untuk mendatangkan visitor bagaimana? Dengan SEO  dan SEM , untuk SEO dan SEM akan kita bahas pada bab tersendiri.

Kesimpulannya website butuh dioptimasi dengan SEO dan dioptimallan pengunjungnya dengan teknik SEM.

3. Tidak tau cara mempromosikan website

Hal ini berhubungan dengan poin ke 2 yaitu dengan SEO dan SEM. Kebanyakan owner atau pemilik website karena salah paham dan salah keyakinan bahwasanya punya website pasti bakal tambah laris. Padahal website harus dipromosikan.

Cara pertama yang paling mudah untuk mempromosikan website adalah dengan menulis alamat website pada status profile media sosial dan status feed media sosial yang kita miliki. Menshare produk ataupun tulisan yang menurut kita bermanfaat jika diketahui oleh kebanyakan orang. Dengan produk atau konten yang bermanfaat maka link promosi kita akan lebih cepat viral dan mendatangkan banyak visitor ke website kita dan berpeluang menjadi pembeli produk / jasa kita.

Kesimpulan poin ini adalah, promosikan website minimal dengan sarana media social kita seperti facebook, twitter, instagram, linked in dsb.

4. Tidak tau teknik closing calon pelanggan yang sudah tertarik dengan produk / jasa kita.

Poin ini berhubungan erat dengan ilmu komunikasi yang kita bahas pada poin 1. Namun sedikit berbeda.

Misal ada yang sudah minat ingin jadi calon pelanggan kemudian kita salah memfollow up dengan kata-kata seperti yang dicontohkan pada percakapan berikut :

Penjual : Gimana pak apakah jadi atau tidak membeli cctvnya?

Pembeli : Hmmm.. kayaknya enggak dulu deh mas..

Ada kah yang salah dari ucapan penjual tersebut? Kalau pernah dengar ceramahnya tung desem waringin tentang sales mavic pasti paham kesalahannya.

Kesalahannya ada pada penawaran kata “jadi atau tidak”. Mengapa? Karena penjual memberikan opsi 2 hal yaitu jadi dan tidak.. 
Di benak pembeli melihat kesempatan menghindar dengan kata “tidak” .. ibarat anda berkunjung ke tempat makan kemudian ada piliha  2 menu pasti anda memilih salah satunya.

Dan duaar.. pelanggan anda memilih kata “tidak”. 

Coba bayangkan, bagaimana jika kalimat pertanyaannya kita ganti seperti ini:

Penjual : Halo bapak bagaimana apakah ccrtvnya jadi mau dibeli hari ini? Hari ini terakhir harga diskon, stoknya juga belum tentu ada lagi besok karena peminatnya banyak dan mungkin bs habis hari ini dan belum tentu akan restok lagi.

Dengan kalimat seperti ini pembeli akan berpikir keras jika kehilangan kesempatan langka dan kemungkinan besar akan membeli karena penawarannya kita batasi dan pelanggan akan merasa rugi sekali jika melewatkan kesempatan ini. Ibarar ketinggalan kereta yang entah kapan tersedia lagi tiketnya … hehe.

Oke mungkin itu saja yang bisa saya sharing kali ini, jangan lupa subscribe notifikasi untuk dapatkan update artikel bermanfaat lainnnya. Biar gak salah kayak cerita pemilik website baru yang disebutkan diatas..

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca artikel ini.