Sejarah teknologi sidik jari

Sejarah teknologi sidik jari berkembang sekitar tahun 1890-an, ketika ilmuwan Inggris Sir Francis Galton mengusulkan ide ilmiah menggunakan sidik jari untuk mengidentifikasi penjahat. Dimulai sekitar tahun 1880, Golton mempelajari sidik jari secara ilmiah untuk mempelajari persamaan dan pola genetik. Dalam risalah ini, Golton menyimpulkan bahwa tidak ada sidik jari yang sama, dan jika sidik jari setiap orang memiliki titik yang berbeda. Berdasarkan hal tersebut, Galton mengatakan bahwa sidik jari dapat digunakan untuk mengidentifikasi seseorang.

Sidik jari memiliki sejarah pada tahun 1892, dan Galton menerbitkan buku yang berjudul “Sidik Jari” yang berisi semua penemuan ilmiah tentang sidik jari. Konsep sidik jari yang paling terkenal di Galton adalah jenis sidik jari yang sekarang dikenal: loop, kurva, berputar. Tiga macam pola atau petunjuk dasar untuk menentukan sidik jari pertama mereka, menambahkan poin ke pola khas basa.

Setelah Golton menerbitkan bukunya, lembaga penegak hukum di berbagai negara mulai menggunakan konsep identifikasi sidik jari untuk mengidentifikasi penjahat. Sir Edward Richard Henry, seorang perwira polisi Inggris yang bekerja di India, telah menjadi salah satu pelopor dalam menerapkan sistem identifikasi sidik jari kriminal di India. Sir Edward Henry bahkan mampu mengumpulkan lebih dari 1000 data sidik jari kriminal India (kartu sidik jari).

Pada awal abad ke-20, Scottish Yard (Polisi Inggris) mulai membuat sistem identifikasi sidik jari berdasarkan sistem yang dikembangkan oleh Sir Edward Richard Henry dan menciptakan Biro Sidik Jari Pusat di Kepolisian Inggris. Sejarah sidik jari terus berkembang tidak hanya di benua Eropa, tetapi juga di Amerika. Sekitar tahun 1903, Departemen Kepolisian New York (NYPD), Sistem Penjara Negara Bagian New York, dan Biro Penjara Federal mulai menggunakan sistem sidik jari untuk penjahat.

Pada tahun 1905, Angkatan Darat Amerika Serikat (U.S. Army) juga mulai menggunakan sistem ini untuk mendaftarkan semua anggotanya. FBI juga mulai menggunakan sistem identifikasi sidik jari pada tahun 1924, terutama untuk penjahat. Hingga sekarang, polisi di berbagai negara lain termasuk FBI yang ada di Amerika dan polisi di Indonesia telah mengembangkan sistem identifikasi sidik jari yang canggih.
Sejarah awal penggunaan sidik jari di Indonesia

Sejarah teknologi sidik jari di Indonesia juga tidak menyenangkan dibandingkan di luar negeri. Awalnya pengenalan ilmu sidik jari kepada kepolisian dipelopori oleh tentara Jerman yang melarikan diri dari SS SS dan bergabung dengan Tentara Hindia Timur Belanda untuk dikerahkan ke Indonesia. Prajurit itu bernama Gustav Poppeck. Setelah berakhirnya Perang Dunia I (Perang Dunia I), Popeck mendaftar sebagai polisi di Hindia Belanda di Indonesia dan memulai pelatihan polisi di Sukabumi.

Setelah menyelesaikan pendidikan polisi, Popek ditugaskan ke Makassar untuk melayani departemen kriminal. Selama di Makassar, Popek memperkenalkan dan mengembangkan konsep sidik jari untuk mengidentifikasi seseorang. Di Indonesia, penggunaan sidik jari yang lebih teratur mulai berkembang sekitar tahun 1959-1960, dengan dibangunnya sistem identifikasi sidik jari untuk keperluan penegakan hukum atau kependudukan. Perkembangan sistem identifikasi sidik jari di Indonesia masih baru dan masih terus dikembangkan, namun teknologi ini sudah cukup untuk mendukung berbagai kebutuhan pendataan penduduk Indonesia.

Menggunakan teknologi sidik jari saat ini

Meskipun sejarah sidik jari awal seharusnya digunakan di bidang penegakan hukum, teknologi sidik jari mulai digunakan dalam kehidupan sehari-hari seiring dengan perkembangannya. Salah satu hal yang sering dijumpai adalah mesin fingerless yang kini sudah terpasang di hampir semua perkantoran, baik swasta maupun pemerintahan. Mesin ini menggunakan otentikasi sidik jari karyawan untuk memantau kedatangan karyawan terkait. Setiap awal dan akhir jam kerja, karyawan wajib melampirkan sidik jari sebagai bukti kehadiran. Teknologi ini memungkinkan bisnis dan instansi pemerintah untuk memantau kehadiran karyawan. Ini karena karyawan tidak dapat membuat sidik jari mereka sendiri atau membuat sidik jari yang sama dengan orang lain.

Teknologi sidik jari Indonesia juga digunakan dalam proses pembuatan kartu identitas seperti KTP elektronik (e-KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM) dan paspor. Sidik jari penduduk yang terekam pada berbagai kartu identitas ini digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk akses ke layanan medis dan sosial lainnya. Data sidik jari juga digabungkan dengan data kepolisian, sehingga jika seorang kriminal melakukan tindak pidana dan memberikan sidik jari di Tempat Kejadian Perkara (TKP), polisi dapat dengan mudah mengidentifikasi dan menangkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *